Setelah
lebih dari dua dekade berhasil menggebrak sebagai salah satu label
rekaman musik cadas bertegangan tinggi paling sukses, Relapse Records
tetap rajin mengorbitkan berbagai album dari band-band yang memainkan
beragam jenis musik ekstrem; mulai dari metal, punk, hardcore, rock,
hingga shoegaze sekalipun.
Tercatat pada Agustus 2015 ini, Relapse Records tepat menginjak usia
ke-25 tahun—menunjukkan bahwa tak sedikit album yang telah tercipta dan
berhasil dirilis oleh label bentukan Matthew F. Jacobson tersebut.
Mungkin rangkuman di bawah akan menjadi hasil yang paradoks, namun percayalah jika album-album yang dipilih oleh Rolling Stone
pantas untuk mewakili kesuksesan Relapse Records selama ini. Satu hal
yang perlu diketahui, dengan tidak berniat memberikan penilaian
berdasarkan nomor urut, maka daftar berikut disusun sesuai abjad:
25) Unearthly Trance – 'The Trident' (2006)
Band yang didirikan pada tahun 2000 silam ini
dapat dikatakan sebagai “kakak kandung” dari unit doom metal Serpentine
Path, karena setelah memutuskan bubar pada 2012 lalu, sebagian dari para
personelnya langsung membentuk Serpentine Path. Namun tahun ini,
Unearthly Trance diketahui kembali aktif. Melalui album The Trident (2006), mereka dapat memainkan musik yang lebih “waras” jika dibandingkan pendahulunya, Season of Seance, Science of Silence (2003) dan In the Red (2004). Dengan komponen-komponen doom, death, dan heavy metal yang disajikan bersamaan dengan sound apik, album ini layaknya sebuah “pintu gerbang” bagi doom metal dalam memasuki era baru yang lebih modern.
24) Ulcerate – 'Vermis' (2013)
Mungkin banyak orang yang telah menyadari
sebuah kesimpulan: bahwa seiring berjalannya waktu, semakin banyak
musisi atau band-band yang memberikan warna baru terhadap musiknya
dengan menambahkan elemen-elemen lain yang belum pernah ada sebelumnya.
Dalam kancah musik death metal dunia, Ulcerate menjadi salah satunya.
Lewat album Vermis (2013), band asal New Zealand bentukan tahun
2002 ini telah menempatkan death metal dalam sebuah ruang baru; musik
yang tidak terus-menerus dibawakan dengan kecepatan tinggi, adanya
komposisi "istirahat" bagaikan kelompok post-rock atau ambient, serta
lapisan-lapisan gitar yang terdengar melimpah layaknya diisi oleh lima
orang gitaris sekaligus. Silakan sadari sendiri dengan mendengarkan
nomor-nomor seperti “Vermis”, “Weight of Emptiness”, dan “Confronting
Entropy”.
23) Spawn of Possession – 'Incurso' (2012)
Jika dalam dunia sepak bola terdapat sosok
Lionel Messi—dengan ketrampilannya mengolah si kulit bundar hingga ke
tingkat yang hampir tidak terpikirkan oleh manusia—maka kancah musik
death metal memiliki Spawn of Possession yang akan membuat Anda
termenung-menung setelah mendengarkan musiknya. Duet maut yang terjalin
antara gitaris Christian Münzner (mantan personel Necrophagist dan
Obscura) dan Jonas Bryssling berhasil menciptakan suatu nafas kehidupan
baru—komposisi-komposisi brilian yang sangat jarang ditemukan—bagi death
metal itu sendiri. Tanpa banyak berbasa-basi, langsung saja nikmati
kebisingan-kebisingan dalam sebuah peperangan di luar angkasa seperti
terdapat pada nomor “Where Angels Go Demons Follow”, “Bodiless Sleeper”,
dan “The Evangelist.”
22) Serpentine Path – 'Emanations' (2014)
Mereka semakin rajin untuk bermalas-malas ria. Mungkin itulah gambaran yang tepat bagi Serpentine Path pasca merilis album Emanations (2014). Dengan mengandalkan tempo lambat yang diberikan sentuhan sound
kasar, Ryan Lipynsky, Jay Newman, Darren Verni (juga merupakan para
personel Unearthly Trance), Tim Bagshaw, dan Stephen Flam berhasil
meracik musik yang terdengar semakin kelam dan suram. Album ini bagaikan
sebuah perkembangan sukses dari pendahulunya, Serpentine Path (2012).
21) Red Fang – 'Murder the Mountains' (2011)
Murder the Mountains
(2011) dari Red Fang seperti mendampingi para pendengarnya untuk keluar
dari padang pasir luas dengan pohon-pohon kaktus di sekitarnya. Riff
gitar khas stoner rock yang mendapat sedikit suntikan blues dan
psikedelik berhasil diperkuat oleh gaya vokal yang tidak hanya
berteriak, namun juga bernyanyi liar. Mari simak nomor-nomor wajib
seperti “Malverde”, “Wires”, dan “Number Thirteen” yang akan melengkapi
hari Anda ketika sedang menikmati sekaleng bir di bawah teriknya
matahari.
20) Pig Destroyer – 'Prowler in the Yard' (2001)
Prowler in the Yard (2001) dapat
menjadi sebuah album acuan bagi yang belum pernah mendengarkan musik
grindcore. Lewat album ini, Pig Destroyer menyatakan dengan tegas bahwa
grindcore tidak selalu harus dibawakan dengan kecepatan tinggi yang
membara. Sebaliknya, Prowler in the Yard merupakan hasil ramuan yang mencakup banyak unsur; sound kasar yang orisinal, groove death metal a la band Devourment, teknik drum yang menggabungkan d-beat dengan blast beat,
seta teriakan vokal dengan karakternya yang terdengar basah. Hebatnya
lagi, Pig Destroyer dapat merangkum hampir semua dari formula tersebut
ke dalam satu lagu dengan durasi cukup pendek yang berjudul “Junkyard
God”.
19) Origin – 'Antithesis' (2008)
Origin adalah sebuah band yang mencampur
unsur-unsur; brutal, kasar, teknik-teknik gitar melodius, serta
kecepatan tingkat tinggi ke dalam musiknya. Itulah yang mengakibatkan
band asal Topeka, Kansas, AS tersebut memiliki keunikan tersendiri.
Mereka bagaikan sedang memainkan death metal dengan musik yang dapat
ditiru dengan nyanyian. Segala elemen awal yang terdapat pada Origin
berhasil diperbarui lewat album keempat mereka yang bertajuk Antithesis
(2008). Silakan dengarkan nomor-nomor penting berjudul “The
Aftermath”, “Wrath of Vishnu”, dan “Finite” yang membuat diri Anda
seakan berada pada dimensi lain yang dihuni oleh makhluk-makhluk asing.
18) Obscura – 'Cosmogenesis' (2009)
Mungkin Obscura dapat diidentikan sebagai
generasi penerus dari Necrophagist. Walaupun mereka berasal dari era
yang berbeda, namun warna musik dari kedua band ini cukup serupa.
Apalagi ketika merilis album Cosmogenesis (2009), Obscura masih
diperkuat oleh Christian Münzner (gitar) dan Hannes Grossmann (drum),
yang keduanya juga merupakan mantan anggota Necrophagist. Album ini
menyuguhkan musik death metal yang tertata rapi: permainan andal dari
para personelnya mengakibatkan produksi sound yang dihasilkan
terdengar dengan amat jernih. Langsung saja buktikan melalui lagu-lagu
seperti “The Anticosmic Overload”, “Incarnated” , dan “Orbital
Elements”.
17) Nile – 'Annihilation of the Wicked' (2005)
Annihilation of the Wicked (2005)
merupakan album studio pertama dari Nile dengan George Kollias, salah
satu penggebuk drum terbaik dalam kancah musik death metal dunia yang
selalu dapat bermain secara tepat, akurat, dan konstan. Band asal
Greenville, Carolina Selatan, AS ini mulai terkenal berkat membawakan
tema yang cukup berbeda—bercerita tentang mitologi Mesir dengan suasana
musik a la Timur Tengah—dari kebanyakan band-band death metal pada
umumnya. Dengarkan saja uraian mereka lewat nomor-nomor rumit; “Cast
Down the Heretic”, “User-Maat-Re”, dan “The Burning Pits of the Duat”.
16) Neurosis – 'Times of Grace' (1999)
Sejujurnya, saya agak kesulitan untuk
menentukan album Neurosis mana yang akan masuk ke dalam daftar ini.
Namun setelah mempertimbangkannya matang-matang, saya memutuskan untuk
memberi hormat lebih kepada album Times of Grace (1999).
Bagaimana tidak, mereka berhasil menyuguhkan materi-materi lebih "sehat"
dengan lapisan atmosfer yang luas seperti terdapat pada “The Doorway”,
“The Last You’ll Know”, dan “Belief”. Neurosis telah menjadi kelompok
yang tampaknya enggan dideskripsikan: mereka melampaui keberadaan metal,
hardcore, atau punk sekalipun. Scott Kelly, Dave Edwardson, Jason
Roeder (ketiga pendiri Neurosis), dan kawan-kawan berhasil merumuskan
banyak unsur musik ke dalam komposisi-komposisi apik yang begitu gagah
perkasa lewat album ini.
15) Necrophagist – 'Epitaph' (2004)
Sudah tidak perlu diragukan lagi ketika band
yang dikomandoi oleh sang gitaris superior, Muhammed Suiçmez, berhasil
membawa pengaruh penting bagi kemajuan musik death metal dunia. Dengan
segala kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki Suiçmez, Necrophagist
telah mempersembahkan dua album studio; Onset of Putrefaction (1999) dan Epitaph
(2004). Kedua album tersebut berhasil mencuri perhatian karena adanya
percampuran kental antara elemen kompleks death metal dengan
komposisi-komposisi musik neo-klasikal. Lewat Epitaph, band
asal Jerman bentukan 1992 ini berusaha untuk menjadi "manusiawi" dan
hasilnya tidaklah sia-sia: mereka menghasilkan musik yang lebih mudah
untuk diserap dan dicerna. Rasanya saya tidak perlu lagi berpanjang
lebar mendeskripsikan Necrophagist karena mereka bukanlah band yang
masih membutuhkan promosi layaknya Tombs dan Pyrrhon (dua band metal
rekrutan Relapse Records yang tergolong baru).
14) Nasum – 'Inhale/Exhale' (1998)
Nasum bagaikan Napalm Death yang sempat
dimiliki oleh Skandinavia. Mungkin kalimat itulah yang secara instan
terpikirkan oleh saya ketika harus menggambarkan band asal Swedia
tersebut. Mengapa saya gunakan kata "sempat" di atas? Ya, mereka
langsung memutuskan untuk bubar setelah kematian sang vokalis Mieszko
Talarczyk—akibat diterjang gelombang Tsunami yang menewaskan
dirinya—ketika sedang berlibur di Thailand pada 2004 silam. Seperti
halnya Napalm Death, Nasum berhasil menjadi band grindcore yang sarat
dengan tema sosial, politik, dan humanisme. Bersamaan dengan album Inhale/Exhale (1998),
secara emosional—lagu-lagu berdurasi singkat yang dibungkus dengan
teramat padat dan intens—Nasum tampak ingin mengantarkan pesan bagi para
pendengarnya untuk tetap marah dan jangan pernah berhenti melawan
segala bentuk penindasan serta diskriminasi.
13) Misery Index – 'Traitors' (2008)
Terlepas dari ketangkasan para personelnya, kesuksesan sebuah album juga patut ditinjau dari kinerja hebat sang produser. Traitors
(2008) yang merupakan album ketiga Misery Index diproduseri oleh Kurt
Ballou, gitaris cerdas dari unit hardcore punk veteran Converge yang
telah banyak memproduseri berbagai macam rilisan dari band-band seperti;
Jesuit, Cave In, Disfear, Trap Them, Kvelertak, Black Breath, All Pigs
Must Die, Old Man Gloom, hingga Baptists. Dalam album ini, Misery Index
berhasil memperkaya diri dengan menggali komponen-komponen yang belum
terlalu kelihatan di dua album sebelumnya; hubungan erat yang terjalin
antara grindcore dengan death metal, tema lirik sosial politik yang
lebih mendalam, dan terciptanya nomor anthemic seperti “Traitors”.
12) Mastodon – 'Leviathan' (2004)
Penampilan aneh dari Brent Hinds (gitaris sekaligus vokalis) dan Brann Dailor (drummer) di perhelatan Grammy Awards pada Februari silam —ketika Hinds menggunakan seragam tim baseball
asal Amerika Serikat, Los Angeles Dodgers dan Dailor yang mengenakan
kemeja hijau lengkap dengan jas bermotif balon—kembali menjadi bukti
bahwa Mastodon adalah sebuah band yang kerap bergurau dan melakukan
hal-hal konyol dalam kesehariannya. Namun, jangan coba untuk menilai
setiap karya yang telah mereka hasilkan berdasarkan tingkah laku
tersebut karena merilis album-album studio yang inovatif dan memukau
tampaknya sudah menjadi peraturan wajib bagi kuartet asal Atlanta, AS
ini. Kesuksesan mereka mulai tercium sejak album perdana, Remission (2002). Dengan ditindaklanjuti oleh sebuah album konsep Leviathan (2004), Mastodon semakin terasa rapi dengan mempertontonkan; nuansa groove
yang berbaris ketat menjaga gagahnya musik metal dan gusarnya
karakteristik vokal, pengulangan solo gitar yang membuat kepala seperti
berputar, serta petikan halus dawai pada beberapa bagian yang memberikan
sentuhan minimalis nan indah.
11) Man Must Die – 'The Human Condition' (2007)
Jika Skotlandia memiliki warisan seperti
Johnnie Walker dan Ballantine’s, mereka juga patut berbangga dengan
keberadaan Man Must Die. Siapa yang menyangka bahwa band kecil bentukan
tahun 2002 tersebut berhasil mengagetkan kancah musik death metal dunia
dengan bergabung bersama Relapse Records dan mempersembahkan album The Human Condition
(2007)? Sebagai pentolan band, Joe McGlynn mampu mengeluarkan energi
terbaiknya sehingga dapat menghasilkan karakter vokal variatif yang
begitu kuat tak terpatahkan. Untuk departemen musikalitas sendiri,
sebaiknya tidak perlu banyak dibicarakan lagi, karena lewat teknik gitar
dengan skala-skala tingkat lanjut, mereka tiada memberikan ampun bagi
Anda yang mendengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar