Rabu, 03 Februari 2016

25 Album Metal Terbaik Rilisan Relapse Records



Setelah lebih dari dua dekade berhasil menggebrak sebagai salah satu label rekaman musik cadas bertegangan tinggi paling sukses, Relapse Records tetap rajin mengorbitkan berbagai album dari band-band yang memainkan beragam jenis musik ekstrem; mulai dari metal, punk, hardcore, rock, hingga shoegaze sekalipun.
Tercatat pada Agustus 2015 ini, Relapse Records tepat menginjak usia ke-25 tahun—menunjukkan bahwa tak sedikit album yang telah tercipta dan berhasil dirilis oleh label bentukan Matthew F. Jacobson tersebut.
Mungkin rangkuman di bawah akan menjadi hasil yang paradoks, namun percayalah jika album-album yang dipilih oleh Rolling Stone  pantas untuk mewakili kesuksesan Relapse Records selama ini. Satu hal yang perlu diketahui, dengan tidak berniat memberikan penilaian berdasarkan nomor urut, maka daftar berikut disusun sesuai abjad:



25) Unearthly Trance – 'The Trident' (2006)

Band yang didirikan pada tahun 2000 silam ini dapat dikatakan sebagai “kakak kandung” dari unit doom metal Serpentine Path, karena setelah memutuskan bubar pada 2012 lalu, sebagian dari para personelnya langsung membentuk Serpentine Path. Namun tahun ini, Unearthly Trance diketahui kembali aktif. Melalui album The Trident (2006), mereka dapat memainkan musik yang lebih “waras” jika dibandingkan pendahulunya, Season of Seance, Science of Silence (2003) dan In the Red (2004). Dengan komponen-komponen doom, death, dan heavy metal yang disajikan bersamaan dengan sound apik, album ini layaknya sebuah “pintu gerbang” bagi doom metal dalam memasuki era baru yang lebih modern.



24) Ulcerate – 'Vermis' (2013)

Mungkin banyak orang yang telah menyadari sebuah kesimpulan: bahwa seiring berjalannya waktu, semakin banyak musisi atau band-band yang memberikan warna baru terhadap musiknya dengan menambahkan elemen-elemen lain yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam kancah musik death metal dunia, Ulcerate menjadi salah satunya. Lewat album Vermis (2013), band asal New Zealand bentukan tahun 2002 ini telah menempatkan death metal dalam sebuah ruang baru; musik yang tidak terus-menerus dibawakan dengan kecepatan tinggi, adanya komposisi "istirahat" bagaikan kelompok post-rock atau ambient, serta lapisan-lapisan gitar yang terdengar melimpah layaknya diisi oleh lima orang gitaris sekaligus. Silakan sadari sendiri dengan mendengarkan nomor-nomor seperti “Vermis”, “Weight of Emptiness”, dan “Confronting Entropy”.



23) Spawn of Possession – 'Incurso' (2012)

Jika dalam dunia sepak bola terdapat sosok Lionel Messi—dengan ketrampilannya mengolah si kulit bundar hingga ke tingkat yang hampir tidak terpikirkan oleh manusia—maka kancah musik death metal memiliki Spawn of Possession yang akan membuat Anda termenung-menung setelah mendengarkan musiknya. Duet maut yang terjalin antara gitaris Christian Münzner (mantan personel Necrophagist dan Obscura) dan Jonas Bryssling berhasil menciptakan suatu nafas kehidupan baru—komposisi-komposisi brilian yang sangat jarang ditemukan—bagi death metal itu sendiri. Tanpa banyak berbasa-basi, langsung saja nikmati kebisingan-kebisingan dalam sebuah peperangan di luar angkasa seperti terdapat pada nomor “Where Angels Go Demons Follow”, “Bodiless Sleeper”, dan “The Evangelist.”




22) Serpentine Path – 'Emanations' (2014)

Mereka semakin rajin untuk bermalas-malas ria. Mungkin itulah gambaran yang tepat bagi Serpentine Path pasca merilis album Emanations (2014). Dengan mengandalkan tempo lambat yang diberikan sentuhan sound kasar, Ryan Lipynsky, Jay Newman, Darren Verni (juga merupakan para personel Unearthly Trance), Tim Bagshaw, dan Stephen Flam berhasil meracik musik yang terdengar semakin kelam dan suram. Album ini bagaikan sebuah perkembangan sukses dari pendahulunya, Serpentine Path (2012).



21) Red Fang – 'Murder the Mountains' (2011)

Murder the Mountains (2011) dari Red Fang seperti mendampingi para pendengarnya untuk keluar dari padang pasir luas dengan pohon-pohon kaktus di sekitarnya. Riff gitar khas stoner rock yang mendapat sedikit suntikan blues dan psikedelik berhasil diperkuat oleh gaya vokal yang tidak hanya berteriak, namun juga bernyanyi liar. Mari simak nomor-nomor wajib seperti “Malverde”, “Wires”, dan “Number Thirteen” yang akan melengkapi hari Anda ketika sedang menikmati sekaleng bir di bawah teriknya matahari.


20) Pig Destroyer – 'Prowler in the Yard' (2001)

Prowler in the Yard (2001) dapat menjadi sebuah album acuan bagi yang belum pernah mendengarkan musik grindcore. Lewat album ini, Pig Destroyer menyatakan dengan tegas bahwa grindcore tidak selalu harus dibawakan dengan kecepatan tinggi yang membara. Sebaliknya, Prowler in the Yard merupakan hasil ramuan yang mencakup banyak unsur; sound kasar yang orisinal, groove death metal a la band Devourment, teknik drum yang menggabungkan d-beat dengan blast beat, seta teriakan vokal dengan karakternya yang terdengar basah. Hebatnya lagi, Pig Destroyer dapat merangkum hampir semua dari formula tersebut ke dalam satu lagu dengan durasi cukup pendek yang berjudul “Junkyard God”.





19) Origin – 'Antithesis' (2008)

Origin adalah sebuah band yang mencampur unsur-unsur; brutal, kasar, teknik-teknik gitar melodius, serta kecepatan tingkat tinggi ke dalam musiknya. Itulah yang mengakibatkan band asal Topeka, Kansas, AS tersebut memiliki keunikan tersendiri. Mereka bagaikan sedang memainkan death metal dengan musik yang dapat ditiru dengan nyanyian. Segala elemen awal yang terdapat pada Origin berhasil diperbarui lewat album keempat mereka yang bertajuk Antithesis (2008). Silakan dengarkan nomor-nomor penting berjudul  “The Aftermath”, “Wrath of Vishnu”, dan “Finite” yang membuat diri Anda seakan berada pada dimensi lain yang dihuni oleh makhluk-makhluk asing.



18) Obscura – 'Cosmogenesis' (2009)

Mungkin Obscura dapat diidentikan sebagai generasi penerus dari Necrophagist. Walaupun mereka berasal dari era yang berbeda, namun warna musik dari kedua band ini cukup serupa. Apalagi ketika merilis album Cosmogenesis (2009), Obscura masih diperkuat oleh Christian Münzner (gitar) dan Hannes Grossmann (drum), yang keduanya juga merupakan mantan anggota Necrophagist. Album ini menyuguhkan musik death metal yang tertata rapi: permainan andal dari para personelnya mengakibatkan produksi sound yang dihasilkan terdengar dengan amat jernih. Langsung saja buktikan melalui lagu-lagu seperti “The Anticosmic Overload”, “Incarnated” , dan “Orbital Elements”.




17) Nile – 'Annihilation of the Wicked' (2005)

Annihilation of the Wicked (2005) merupakan album studio pertama dari Nile dengan George Kollias, salah satu penggebuk drum terbaik dalam kancah musik death metal dunia yang selalu dapat bermain secara tepat, akurat, dan konstan. Band asal Greenville, Carolina Selatan, AS ini mulai terkenal berkat membawakan tema yang cukup berbeda—bercerita tentang mitologi Mesir dengan suasana musik a la Timur Tengah—dari kebanyakan band-band death metal pada umumnya. Dengarkan saja uraian mereka lewat nomor-nomor rumit; “Cast Down the Heretic”, “User-Maat-Re”, dan “The Burning Pits of the Duat”.




16) Neurosis – 'Times of Grace' (1999)

Sejujurnya, saya agak kesulitan untuk menentukan album Neurosis mana yang akan masuk ke dalam daftar ini. Namun setelah mempertimbangkannya matang-matang, saya memutuskan untuk memberi hormat lebih kepada album Times of Grace (1999). Bagaimana tidak, mereka berhasil menyuguhkan materi-materi lebih "sehat" dengan lapisan atmosfer yang luas seperti terdapat pada “The Doorway”, “The Last You’ll Know”, dan “Belief”. Neurosis telah menjadi kelompok yang tampaknya enggan dideskripsikan: mereka melampaui keberadaan metal, hardcore, atau punk sekalipun. Scott Kelly, Dave Edwardson, Jason Roeder (ketiga pendiri Neurosis), dan kawan-kawan berhasil merumuskan banyak unsur musik ke dalam komposisi-komposisi apik yang begitu gagah perkasa lewat album ini.



15) Necrophagist – 'Epitaph' (2004)

Sudah tidak perlu diragukan lagi ketika band yang dikomandoi oleh sang gitaris superior, Muhammed Suiçmez, berhasil membawa pengaruh penting bagi kemajuan musik death metal dunia. Dengan segala kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki Suiçmez, Necrophagist telah mempersembahkan dua album studio; Onset of Putrefaction (1999) dan Epitaph (2004). Kedua album tersebut berhasil mencuri perhatian karena adanya percampuran kental antara elemen kompleks death metal dengan komposisi-komposisi musik neo-klasikal. Lewat Epitaph, band asal Jerman bentukan 1992 ini berusaha untuk menjadi "manusiawi" dan hasilnya tidaklah sia-sia: mereka menghasilkan musik yang lebih mudah untuk diserap dan dicerna. Rasanya saya tidak perlu lagi berpanjang lebar mendeskripsikan Necrophagist karena mereka bukanlah band yang masih membutuhkan promosi layaknya Tombs dan Pyrrhon (dua band metal rekrutan Relapse Records yang tergolong baru).



14) Nasum – 'Inhale/Exhale' (1998)

Nasum bagaikan Napalm Death yang sempat dimiliki oleh Skandinavia. Mungkin kalimat itulah yang secara instan terpikirkan oleh saya ketika harus menggambarkan band asal Swedia tersebut. Mengapa saya gunakan kata "sempat" di atas? Ya, mereka langsung memutuskan untuk bubar setelah kematian sang vokalis Mieszko Talarczyk—akibat diterjang gelombang Tsunami yang menewaskan dirinya—ketika sedang berlibur di Thailand pada 2004 silam. Seperti halnya Napalm Death, Nasum berhasil menjadi band grindcore yang sarat dengan tema sosial, politik, dan humanisme. Bersamaan dengan album Inhale/Exhale (1998), secara emosional—lagu-lagu berdurasi singkat yang dibungkus dengan teramat padat dan intens—Nasum tampak ingin mengantarkan pesan bagi para pendengarnya untuk tetap marah dan jangan pernah berhenti melawan segala bentuk penindasan serta diskriminasi.






13) Misery Index – 'Traitors' (2008)

Terlepas dari ketangkasan para personelnya, kesuksesan sebuah album juga patut ditinjau dari kinerja hebat sang produser. Traitors (2008) yang merupakan album ketiga Misery Index diproduseri oleh Kurt Ballou, gitaris cerdas dari unit hardcore punk veteran Converge yang telah banyak memproduseri berbagai macam rilisan dari band-band seperti; Jesuit, Cave In, Disfear, Trap Them, Kvelertak, Black Breath, All Pigs Must Die, Old Man Gloom, hingga Baptists. Dalam album ini, Misery Index berhasil memperkaya diri dengan menggali komponen-komponen yang belum terlalu kelihatan di dua album sebelumnya; hubungan erat yang terjalin antara grindcore dengan death metal, tema lirik sosial politik yang lebih mendalam, dan terciptanya nomor anthemic seperti “Traitors”.



12) Mastodon – 'Leviathan' (2004)

Penampilan aneh dari Brent Hinds (gitaris sekaligus vokalis) dan Brann Dailor (drummer) di perhelatan Grammy Awards pada Februari silam —ketika Hinds menggunakan seragam tim baseball asal Amerika Serikat, Los Angeles Dodgers dan Dailor yang mengenakan kemeja hijau lengkap dengan jas bermotif balon—kembali menjadi bukti bahwa Mastodon adalah sebuah band yang kerap bergurau dan melakukan hal-hal konyol dalam kesehariannya. Namun, jangan coba untuk menilai setiap karya yang telah mereka hasilkan berdasarkan tingkah laku tersebut karena merilis album-album studio yang inovatif dan memukau tampaknya sudah menjadi peraturan wajib bagi kuartet asal Atlanta, AS ini. Kesuksesan mereka mulai tercium sejak album perdana, Remission (2002). Dengan ditindaklanjuti oleh sebuah album konsep Leviathan (2004), Mastodon semakin terasa rapi dengan mempertontonkan; nuansa groove yang berbaris ketat menjaga gagahnya musik metal dan gusarnya karakteristik vokal, pengulangan solo gitar yang membuat kepala seperti berputar, serta petikan halus dawai pada beberapa bagian yang memberikan sentuhan minimalis nan indah.

11) Man Must Die – 'The Human Condition' (2007)

Jika Skotlandia memiliki warisan seperti Johnnie Walker dan Ballantine’s, mereka juga patut berbangga dengan keberadaan Man Must Die. Siapa yang menyangka bahwa band kecil bentukan tahun 2002 tersebut berhasil mengagetkan kancah musik death metal dunia dengan bergabung bersama Relapse Records dan mempersembahkan album The Human Condition (2007)? Sebagai pentolan band, Joe McGlynn mampu mengeluarkan energi terbaiknya sehingga dapat menghasilkan karakter vokal variatif yang begitu kuat tak terpatahkan. Untuk departemen musikalitas sendiri, sebaiknya tidak perlu banyak dibicarakan lagi, karena lewat teknik gitar dengan skala-skala tingkat lanjut, mereka tiada memberikan ampun bagi Anda yang mendengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar