Kamis, 18 Februari 2016

Hajatan Ini Hibur Para Tamu dengan Musik Death Metal



Dewa Budjana Terlibat di Album Terbaru Deadsquad

Berjudul 'Tyranation' yang akan rilis pada Maret mendatang

Oleh
Dewa Budjana dari Gigi dan Stevi Item dari Deadsquad. dok. Deadsquad Official
Dewa Budjana, gitaris Gigi, dipastikan terlibat di album terbaru Deadsquad yang bejudul Tyranation. Album terbaru sekaligus ketiga dari unit death metal asal Jakarta ini dijadwalkan rilis pada Maret mendatang.
Saat dihubungi Rolling Stone lewat sambungan telepon, gitaris dari Deadsquad, Stevi Item, menceritakan bagaimana seorang Dewa Budjana dapat terlibat di album Tyranation. “Secara musik di Deadsquad selain unsur metal, ada unsur lainnya juga seperti jazz contohnya. Kalau diperhatikan setiap albumnya, di beberapa bagian ada sedikit yang melenceng,” kata Stevie.
Stevi pun memberi contoh nyatanya di lagu “Natural Born Nocturnal” yang terlibat di album kedua berjudul Profanatik (2013). Di lagu tersebut Deadsquad tak tanggung-tanggung melibatkan gitaris legendaris yaitu Jopie Item, yang juga merupakan ayah kandung Stevi sendiri.


“Nah waktu di Desember kemarin, pas Dewa Budjana lagi di Amerika, gue telepon, ‘mas, bulan depan aku mau rekaman album baru, ikut ngisi (gitar) ya?’ Dia malah jawabnya, ‘aduh, ngisi bagaimana? Jangan susah-susah,’” kenang Stevi. Setelah mendapat persetujuan, Stevi langsung mengirimkan data rekaman gitar yang akan Dewa mainkan nantinya.
Lewat akun sosial medianya, Deadsquad selalu menyebarkan berita terbaru tentang proses rekaman album Tyranation. Selain tentu saja dokumentasi kehadiran Dewa Budjana – mereka melakukan rekaman di Slingshot Studio milik produser andal Stephan Santoso – ada pula foto dan video yang menayangkan bagaimana kelima personel Deadsquad menjalani sesi rekaman album Tyranation. Namun hingga berita ini dituliskan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Deadsquad yang menjelaskan mengapa posisi Coki Bollemeyer (gitar) harus diisi oleh seorang gitaris tamu bernama Karis. 

Wacken: Festival Musik Metal Terbesar di Dunia


1312799551-world-largest-heavy-metal-festival-wacken_781686
Kesenangan saya menonton secara live konser, dan diantara kerumunan manusia saat menikmati musik (metal), menyiratkan sebuah tanya. Konser metal apa yang tergolong terbesar di dunia?.

Tanpa bermaksud berlebihan, dan ini masih butuh penelusuran lebih lanjut, saya sudah menetapkan sebuah konser untuk menjawabnya. Konser yang saya tentukan ini merupakan hasil baca dari beberapa sumber, dan sepertinya “dia-lah satu-satunya” yang pantas untuk menyandang gelar sesuai judul di atas.
Konser dalam kategori ini adalah berbentuk festival, bukan konser sendiri seperti yang pernah saya tuliskan terdahulu dengan judul Konser Rock Terbesar dalam sejarah Indonesia. Sebuah konser musik metal (cadas/keras) dengan format pagelaran (festival) secara bergantian berbagai band selama beberapa hari yang menjadi batasannya. Lalu, tentu saja, sekali lagi, musik keras bergenre metal menjadi acuannya.
Penentuannya bukan hal yang mudah, karena beberapa festival musik metal yang terbilang besar cukup sulit “ditemukan”, setidaknya yang benar-benar ber-genre cadas. seperti diketahui festival musik besar biasanya tidak murni hanya satu genre, seringkali beragam, seperti Pinkpop (Landgraaf, Belanda), Pukkelpop (Hasselt, Belgia), Sziget (Budapes, Hungaria), Reading & Leeds (Reading & Leeds, UK), Coachella (Indio, California, USA), Exit (Novia, Serbia), T in The Park (Kinross, Scotland), Rock al Parqua (bogota, Columbia), Rock Werchter (Werchter, Belgia), Roskilde (Roskilde, Denmark), Reading (UK), Roskilde (Denmark), Bonaroo(Tennesee, USA), Ummerfest (Milmaukee, USA), Fuji Rock (Jepang), Summer Sonic (Jepang), Glastonburry (UK), Lollapalooza (Chicago, USA), Coachella Festival (California, USA), Rock in Rio (Brazil & Portugal), Soundwafe (Australia), 70.000 Ton, Download Festival, LiveaRing, Dynamo Open Air, Hell Fest, Graspop Metal Meeting, dan lainnya.
Semua festival tersebut, sekali lagi, besar eventnya bukan hanya satu genre, khususnya metal. Satu-satunya festival musik metal terbesar adalah Wacken Open air (WOA). Wikipedia menulis tentang Wacken sebagai berikut:
Festival ini digelar di desa kecil Wacken di Schleswig-Holstein, Jerman utara. Pertama kali diadakan pada tahun 1990 untuk band-band lokal di Jerman. Pada tahun 1998 acara ini telah menjadi festival utama di kalender anak metal Eropa dan diisi lebih dari 70 band yang berasal dari seluruh Eropa, Amerika Utara dan Australia. Wacken biasanya diadakan pada akhir Juli hingga di awal Agustus dan berlangsung selama tiga hari, di mana para penonton berkemah di sekitar area festival.
Pada perhelatan tahun 2009, tercatat rekor penjualan, habis terjual pada tanggal 30 Desember 2008. Semua tiket sejumlah 70.000 terjual lebih dari 200 hari sebelum pembukaan festival. Tidak kalah hebatnya, pada 2012 memecahkan rekor (lagi) yakni tiket mampu terjual habis pada 29 November, bagus 8 bulan sebelum pembukaan festival. Wacken mampu menarik semua jenis penggemar musik metal, seperti penggemar black metal, death metal, power metal, thrash metal, gothic metal, folk metal, metalcore, nu metal dan hard rock dari seluruh dunia. Bagi saya, Wacken seperti “konferensi dunia metal”, mereka berdatangan dari berbagai genre metal, dan mereka berasal dari berbagai negara di penjuru dunia….

Sabtu, 06 Februari 2016

Cara Membaca Tab Gitar





      Kali ini kita akan membahas tentang cara  membaca tab atau tablatur gitar.
Sebelum itu, mari kita ketahui apa itu Tab atau Tablatur. Tab atau Tablatur adalah suatu cara penulisan musik untuk alat musik string (termasuk Gitar dan Bass), Seperti halnya penulisan pada notasi musik standard, TAB hanya menggunakan karakter dan angka ASCII agar bisa ditempatkan di Internet dan terbaca oleh semua jenis program.


DASAR-DASAR TAB

        
Jika anda sudah mahir bermain gitar anda pasti ingin bermain melody .dan anda pasti sudah mencari cari apa itu yang disebut dengan tab atau istilah formalnya adalah tablature. Tablature sebenarnya tidak melulu pada gitar saja, tapi bisa juga dipakai untuk alat musik lainnya.Tetapi disini khusus akan menjelaskan tentang tab pada gitar. “Mungkin dengan sekali penjelasan ,anda akan langsung paham, tetapi prakteknya sangat rumit dan kompleks”. Mulai dari pengertian tablature dulu, kemudian baru menginjak istilah teknis tablature yang kompleks.
Definisi tablature: enam garis yang menggambarkan guitar fingerboard, garis teratas menunjukkan senar yang bernada paling tinggi (high E / E tinggi / senar no 1 -- standard tuning).

       Setiap baris masing-masing mewakili setiap senar gitar. Senar gitar aling atas merupakan senar paling bawah pada gitar dan senar gitar paling bawah merupakan senar gitar paling atas.
Fret  adalah pembatas-pembatas yang terbuat dari logam antara bar pada fretboard. Biasanya ada 22- 24 fretboard yang ada pada gitar elektrik.

Berikutnya, chord (atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan "kunci" gitar). Pada tab, chord ditulis sejajar, contoh chord C pada tab:
|--0---------------------------------
|--1---------------------------------
|--0---------------------------------
|--2---------------------------------
|--3---------------------------------
|------------------------------------

Cara Baca Tab Tablature

e|–1—2—3—4————————
B|—————————————–
G|—————————————–
D|—————————————–
A|—————————————–
E|—————————————–
artinya petik senar pertama (paling bawah) berturut-turut mulai dari fret 1, fret 2, fret 3, fret 4

e|—————————————–
B|———————-1—2—3—4—-
G|—————————————–
D|—————————————–
A|—————————————–
G|—————————————–
 artinya petik senar kedua (dari bawah) berturut-turut mulai dari fret 1, fret 2, fret 3, fret 4

e|—————0————————-
B|———–2——2———————
G|——–3————-3—————–
D|—–4——————-4————–
A|—————————————–
G|—————————————–
Artinya :
1. petik senar ke-4 (hitung dari bawah) fret (kolom) ke-4 lalu
2. petik senar ke-3 (hitung dari bawah) fret (kolom) ke-3 lalu
3. petik senar ke-2 (hitung dari bawah) fret (kolom) ke-2 lalu
4. petik senar ke-1 (paling bawah) fret (kolom) ke-0 (dilepas)

e|–7/9–
B|——-
G|——-
D|——-
A|——-
E|——-
Artinya slide petik senar ke satu (paling bawah) pada fret/kolom ke 7 lalu tanpa diangkat
geser ke depan sampe ke senar sembilan (tanpa di petik lagi senarnya).

e|–9\7–
B|——-
G|——-
D|——-
A|——-
E|——-
Artinya kebalikannya dari slide.


Berikut istilah dalam tab atau tablatur :

  • pull off : tempatkan jari bersamaan pada not-not yang akan dibunyikan. Petik not awal, tarik jari pertama anda(yang memetik not awal) untuk membunyikan not berikutnya
  • slide : petik not awal, geser jari pada not berikutnya (lebih rendah atau tinggi). Ada dua slide disini, pertama: tanpa memetik not berikutnya (sekali petik 2 not), kedua: dengan memetik not berikutnya (dua petik, 2 not)
  • tapping : dengan ujung jari telunjuk atau tengah ketuklah not yang ingin dibunyikan pada fretboard
  • trill : selang-seling dengan cepat antara not awal dan kedua memakai hammer on dan pull off 
  • pick slide : bunyikan not dengan memakai sisi pick, sehingga muncul suara gerit/seret(scratch) 
  • hammer on : petik not awal(pertama) / not lebih rendah dengan cara picking(memetik dengan pick) lalu bunyikan not lebih tinggi dengan jari lain dengan tanpa picking lagi
  • bend : tekan kuat jari kiri pada fretboard kemudian naikkan jari anda hingga nada yang dihasilkan menjadi naik
  • bend and release : petik, bending hingga nadanya naik 1/2 atau 1, kemudian balik lagi ke nada awalnya
  • pre bend : bending dulu hingga nadanya naik 1/2 atau 1, baru dipetik
  • pre bend and release : bending dulu hingga nadanya naik 1/2 atau 1, petik, bending lagi hingga bunyinya balik ke not awal
  • unison bend : bending dua buah not bersamaan
  • artificial harmonic : bunyikan not dengan seperti biasa, cuman pada picking tangan kanan iringi dengan sisi jempol, atau pucuk jari telunjuk, dengan volume atau tingkat efek distorsi tinggi akan menghasilkan bunyi decit harmonic
  • tremolo bar : memakai tremolo/whammy bar, turunkan not pada tablature sejauh yang ditunjukkan, lalu balikkan lagi ke not awalnya
  • palm muting : diamkan not yang bersuara dengan telapak tangan kanan(bagi left handed guitarist)/kiri(bagi right handed guitarist)
  • muffled strings : letakkan jari dengan tanpa menekan terlalu kuat pada fretboard sehingga menghasilkan sound percussive
  • vibrato : efek getar, dengan bending, getarkan senar dengan bending naik turun secara cepat, bisa dengan tangan kiri atau memakai tremolo/whammy bar
  • wide atau exaggerated vibrato : bending naik turun lebih kuat lagi dari vibrato bias
  • natural harmonic : bunyikan not dengan menyentil(menyentuh ringan) dengan jari kiri hingga berbunyi seperti lonceng "ting"


    BERIKUT KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN TAB ATAU TABLATUR

     KEUNGGULAN TAB
  • Dapat menunjukkan string mana yang harus dipijit dan dimainkan.
  • TAB dapat menunjukkan cara memainkan nada (hammer-on, pull-off, slide, bending dll.)
  • TAB juga dapat menunjukkan TUNING masing-masing string. Standard, drop-down atau up-tuning.

    KELEMAHAN TAB
  • TAB tidak dapat menunjukkan lamanya nada yang harus dimainkan. Jadi harus mengenal atau mendengar lagu terlebih dahulu.
  • TAB juga tidak bisa memberitahukan jari mana yang harus digunakan.
  • TAB tidak bisa menunjukkan kapan saat picking (petik) atau strumming (genjreng).


Belajar Teknik Sweep picking/Sweeping pada Gitar



          Sweep picking adalah teknik bermain gitar di mana cara memetiknya seperti menyapu. Bagi yang baru awal mengenal teknik sweeping ini memang sulit dalam mempraktekkannya maka dari itu harus pelan-pelan dulu dengan slow speed, karena setelah terbiasa kita bisa melakukannya dengan fast speed sehingga bisa menghasilkan nada yang terdengar rapi dan mengalir. 
    
         Oke, perhatikan gambar di bawah ini. Lihatlah setiap senar gitar hanya ada satu nada pada tiap senar. Dan ketika kita mulai, yang pertama di petik adalah senar 4 kolom 5 dan seterusnya.Selamat  mencoba.





NB : Jika tidak tau cara membaca tab, KLIK DISINI

Kamis, 04 Februari 2016

Koleksi Gitar, Aksesoris Dan Efek Gitar Mark Morton (Gitaris Lamb Of God)

Koleksi Gitar, Aksesoris Dan Efek Gitar Mark Morton (Gitaris Lamb Of God)
Mark Duane morton pria yang lahir pada tanggal November 25, 1972 ini adalah seorang lead gitar band heavy metal yang berasal dari Richmond, Virginia “Lamb Of God”. Awal terbentuknya band ini ketika Mark Morton, Chris Adler dan John Campbell bertemu pada tahun 1990 di Virginia Commonwealth University dan membentuk band dengan dengan nama “Burn the Priest”. Namun Morton meninggalkan band untuk mengejar gelar sarjananya, dan band ini menambahkan Abe Spear sebagai gitaris, dan Randy Blythe sebagai vokalis. Setelah beberapa tahun terpisah, Morton bergabung lagi dengan grup dan di tahun 1998 Lamb Of God yang pada saat itu masih menggunakan nama Burn The Priest mengeluarkan E.P album yang di beri nama “Sevens And More”. Lalu Pada tahun 1999 Lamb Of God mengawali debut albumnya yang di beri nama sama dengan nama band mereka pada saat itu, yaitu “Burn The Priest”. Dan di album ini mereka mengganti nama mereka menjadi Lamb Of God.

Mark Morton bersama Chris Adler (Drum), John Campbell (Bass), Abe Spear (Gitar) dan Randy Blythe (Vokal) bersatu dalam satu grup bernama Lamb Of God sampai saat ini sudah berhasil merilis beberapa album seperti “New American Gospel” (2000), “As The Palace Burn” (2003), “Terror And Hubris” (2004), “Ashes Of The wake” (2004), “Killadelphia” (2005), “Sacrament” (2006), “Wrath” (2009), “Resulution” (2012). Sebagai gitaris dari band yang memiliki popularitas yang sangat tinggi tentu dia memiliki banyak koleksi gitar dan peralatan lain yang digunakannya saat konser. Nah, pada postingan kali ini saya ingin memberikan informasi tentang gitar, efek gitar, dan aksesoris yang digunakan Mark Morton ini. Tanpa basa-basi lagi berikut Koleksi Gitar, Aksesoris Dan Efek Gitar Mark Morton (Gitaris Lamb Of God):
Gitar Mark Morton (Gitaris Lamb Of God):


Jackson USA Custom Shop Mark Morton DominionSumber gambar dari virtualvintage-bra.com.br
Lihat spesifikasinya klik disini


Jackson Mark Morton Signature D2 DominionSumber gambar dari en.audiofanzine.com
Lihat spesifikasinya klik disini


Jackson JS32T Warrior whiteSumber gambar dari guitar-planet.co.uk
Lihat spesifikasinya klik disini


Jackson King V
Jackson King VSumber gambar dari guitarnoize.com
Lihat spesifikasinya klik disini


Jackson RR24Sumber gambar dari promusicinternational.co.uk
Lihat spesifikasinya klik disini


Jackson RR5 Pro seriesSumber gambar dari jacksonguitar.com
Lihat spesifikasinya klik disini


Gibson Les Paul Deluxe goldtopSumber gambar dari gibson.com
Lihat spesifikasinya klik disini


Jackson black sls soloistSumber gambar dari edroman.com
Lihat spesifikasinya klik disini
Jackson Adrian Smith modelSumber gambar dari myemail.constantcontact.com
Lihat spesifikasinya klik disini



Efek Gitar Mark Morton (Gitaris Lamb Of God):
Dunlop Crybaby synister efek
Sumber gambar dari dunlop.com
Lihat spesifikasinya klik disini


MXR EVH Phase 90 Phaser van halen
Lihat spesifikasinya klik disini


2 Boss NS-2 Noise Suppressors
Sumber gambar dari bossus.com
 Lihat spesifikasinya klik disini

MXR Carbon Copy
MXR Carbon CopySumber gambar dari mydukkan.com



Way Huge Green Rhino pedalSumber gambar dari musicradar.com

 Lihat spesifikasinya klik disini



Aksesoris Mark Morton (Gitaris Lamb Of God):
Boss Chromatic tuner Efek gitar Ben Bruce 
Lihat spesifikasinya klik disini



Mogami cables
Mogami cables
GHS Boomers Strings
GHS Boomers gauges 10-46 
Dunlop Tortex picks
Duplex Tortex .76

CARA MENGINSTAL FL STUDIO 11


sebelum itu saya mau kasih tau, apa fitur terbaru dari FL STUDIO 11? intip yuk.

1. Performance mode - Playlist Clip Live bisa menggunakan menggunakan mouse, layar sentuh,keyboard atau dengan MIDI controller. Mendukung APC20/40, Launchpad, Lemur, Blok, Maschine / Mikro, padKONTROL, Traktor Kontrol DLL.

2. Multi-touch support - FL Studio dan beberapa plugin sekarang menggunakan Multi-touch gesture dengan fungsi Microsoft supported.

3. Playlist - 199 Playlist track, meningkat dari 99 Playlist track.

4. Linking includes MIDI input port - Link sekarang mendukung port input MIDI digunakan untuk menghindari konflik antara controller.

5. Playlist & Piano roll - Horizontal & penguncian gerakan vertikal. tombol Shift untuk mengunci secara horisontal & tombol Ctrl untuk mengunci secara vertikal ketika menyeret item.

6. Piano roll - Glue notes, Mouse wheel velocity, Monophonic step entry mode & Chop chords tool.

7. Right-click data entry - Sebagian besar kontrolnya memungkinkan pake klik kanan untuk mengetik dalam value.

8. Plugin Picker - Klik kanan untuk membuka sebuah plugin dan preset dalam Browser. ketik nama plugin menyorot entri.

9. Mixer - Page Up/Down pada keyboard melalui mixer saat track di plugin windows.

10. Options - Play truncated notes in clips restores notes overlapping slice points in Pattern Clips. Click and hold functions. GUI animation level now selectable from sober to entertaining.

Plugin terbarunya :

1. Bassdrum - Kick Bass yang nge-deep gan, Bassdrum di masukkan ke FL STUDIO 11 karna permintaan para pelanggannya gan, suara yang di hasilkan perfect bro.

 2. GMS (Groove Machine Synth) - Multi-timbral hybrid synthesizer & FX channel di ambil dari Groove Machine.plugin ini juga hasil permintaan dari para pelanggannya.

3. Effector - 12 performance oriented effects: Distortion, Lo-Fi bit reduction, Flanging, Phasing, Filter (low/high pass), Delay, Reverb, Stereo panning & binaural effect, Gating, Granulizer, Vocal formant and Ring modulation effects.effector ini di perkenalkan untuk performance dan sangat cocok untuk digunakan dengan multi-touch display & controller.

4. Patcher - Diperkenalkan dengan FL Studio 10 untuk menyediakan sarana untuk menyimpan dan mengingat efek yang umum digunakan dan rantai Plugin. Letaknya di bagian baru, selain dari yang dirombak dengan koneksi animasi dan antarmuka yang lebih segar, patcher telah memperoleh dua, banyak lagi yang akan datang, Efek Suara (VFX).

5. VFX Key Mapper - untuk memasukkan catatan, live atau dari piano roll.

6. VFX Color Mapper - Memanfaatkan FL Studio 16 Piano gulungan warna catatan yang secara tradisional dipetakan ke saluran MIDI. Sekarang dalam Patcher warna catatan dapat mengontrol 16 generator independen / instrumen atau kelompok generator.


FL STUDIO 11 bisa agan download di mari gan http://demodownload.image-line.com/f...dio_11.0.2.exe

untuk regkey bisa anda download dimari :
[url]http://www.zid*du.com/download/22324920/FLRegKey.rar.html[/url]
Cara install :
1. install dulu FL STUDIO 11 sampe selesai, tapi jangan di RUN dolo
2. buka RegKeynya, pilih yang FLRegKey.rar, double klik
3. double klik yang FLRegkey.reg
4. klik ok-ok-ok ....SELESAI
kalo regkey nya error :
1. double klik image-line.FL_Studio.11.rar
2. double klik patch.exe
3. selesai


SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Rabu, 03 Februari 2016

SEJARAH MUSIK UNDERGROUND DI TEGAL

 Sumber :
 https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=605197362892959&id=595997053812990&substory_index=0





Tegal merupakan wilayahnya tidak begitu luas di pantai utara jawa ini cukup pesat hingga seni budayanya merasuk kedalam hati anak-anak muda tegal,
pada pertengahan tahun 80an perkembangan penikmatnyaa begitu cepat,
Hal ini di dukung dengan adanya media massa yang turut serta membantu dari segi informasi di antara lain majalah aktuil,vista dan hai,tapi sekarang sebagian sudah musnah tak terbit lagi,
Komunitas ini pada awalnya hanya sekedar pecinta music metal yang sering berkunjung di Radio RSPD tegal setiap malam minggu jam 7- jam 11,dimana pada saat itu ada sebuah program mata acara yang bertitle rock line,di dalamnya memutar lagu - lagu rock dan metal mancanegara,
Program ini pun cukup digemari bukan hanya di tegal saja tapi meluas ke kota-kota lainnya hingga saling menjalin silaturahmi berkumpul di radio tersebut,
Tentunya disaat semakin bertambah pesatnya komunitas pun akhirnya memutuskan PLAZA MARINA jadikan wadah tempat berkumpulnya rekan - rekan untuk sharing dan bercanda tawa,
Dengan era yang selalu konsisten berambisi positive berkarya dalam suatu komunitas,scene ini kemudian mengevolusikan untuk berpindah tempat di jalan yang dikenal sebutan Gilitugel sebagai wadah sharing dan mengkonsep pergerakan kami,
Singkat waktu pun atribute yakni di namai GILITUGEL EXTREME COMMUNITY hingga lahirlah band fenomenal TROTOAR (RIP),dan sebagainya,beberapa karya pun mulai muncul sampai sempat juga perfomance dari gigs ke gigs daerah sekitar maupun di Jogjakarta,
Sayang era keemasan mereka pun tak berumur panjang karena kesibukan intern,
Tapi pergerakan scane ini pun malah semakin meluap,dengan seringnya di selenggarakannya event-event di tahun 90an diantaranya PARADE BAND HEADBANGER,BAHARI GEMURUH,TEGAL MASSA HITAM,TEGAL BAWAH TANAH,DEWA BAWA TANAH yang diadakan di pelataran biaskop dewa theatre,, Lahirlah band - band bermanuver berbahaya yakni :
SECOND OF DEATH, BUTOIJO(RIP), LIBRIS, BANASPATI, ZABANIAH(RIP),FAT RANDY,,,DLL
Dan event BAHARI GEMURUH pun jadi saksi dimana kita mampu menghadirkan banyak band fenomenal luar kota untuk bisa meluluhlantakan masa underground tegal dan sekitarnya diantaranya: Prosatanica,Godzilla(jakarta),Cranium(medan),Ritual orchesta(malang) dsb,,
Pada tahun 2000an Semakin matangnya konsep dan pemikiran tercurahkanlah materi album perdana dari SECOND OF DEATH dibawah label EDELWAISS PRODUCTION jakarta,hingga berbagai kompilasipun di jajahinya,Dan tersusulah album perdana dari BANASPATI,,
Masa underground tegal sampai tahun ke tahun semakin bergerilya yakni sukses menggeber langkah bermotivasi dan pruduktif untuk mendokumentasikannya,,
Disaat terjeratnya kesibukan materi realitas logistik masing - masing era keemasan pun sejak saat itu popularitasnya semakin menurun,Sampai wadah tempat kami untuk sharing dan bercanda tawa hampir vakum selama berbulan - bulan,
Di awal tahun 2003 di kota yang terkenal dengan 1001 wartegnya ini,mencoba perlahan pergerakan bangkitan komunitas underground di Tegal Hingga mulai mendapat banyak respon positive dari rekan - rekan yang lainnya, dan dengan seiring berjalanya waktu sketsa materi dan fakta pun membuktikan untuk selalu optimis semangat bergerak dan memuntahkan karya untuk berontak supaya selalu sukses menyusun rangkaian materi,,
Dengan perkembangan komunitas GILITUGEL EXTREME COMMUNITY ini pun kami kembali mengevolusikan mulai untuk tumbuhkan rasa equality diantara satu sama lainnya,,
Dari sinilah pergerekan dan pembuktian semakin meluas untuk melahirkan event demi event dengan swadaya dana kebersamaan yang saat itu menjadi sebuah titik balik dari kebangkitan era komunitas ini adalah event PANTURA GUNCANG dengan tema ini popularitas underground tegal semakin menjadi dan lebih menggila hingga terbentuk komunitas baru,
X-GANGSA BRONTAK dan TEGAL DEATH METAL,,
Hingga lahir amunisi band - band berbahaya yaitu:
CREED OF SATAN(RIP),BLOODSTAIN(RIP),WCC(RIP),KOMATH,NECROLOGY,MUSAKAT,
ALMOST FALL,SHOCK3MINUTES,DISCRIME,RANTAI86,LONTRONX SAMPAH,OST,BROKEN HANDS,EMPTY SKY,SAPUBITINK,TOTALVOICER,WARWET,TERIMALAH dan amunisi bermanuver all genre lainnya,
Dan terbuktilah kembali band sesepuh BANASPATI keluarkan album kedua hingga dirilis label manca SALUTE RECORD(SWEDIA)... ,
Di era masa selanjutnya kota kecil yang selalu melahirkan generasi anak-anak muda ini mempunyai inisiatif untuk luapkan kebebasanya bersatu tanpa rasisme dengan kebersamaan dan kekeluargaan dalam sebuah komitmen: SADURUNGE GETIH MBEKU AJA NGANTI MUNDUR,
Maka dengan berbagai kalangan komunitas dari tahun ke tahun pergerakan postive ini pun semakin matang untuk selalu berkarya menyusun proyek analisis berbagai event diantaranya bertema:
X GANGSA BRONTAK yang Terlahir event tahunan,
MAXIMUM ENERGY,
BANJARAN RIBUT,
LOCAL NOISE,
AMUK MASA,
RISE AGAINTS,
TEGAL BLACK INSIDE,
TEGAL DEATH FEST.
TEGA METAL FESTIVAL,,,
TEGAL BAWAH TANAH #2,,maupun event2 lain dan studio giggs lainnya,
Dibawah TUU karakter dari tegal akhirnya menyatu dalam kebersamaan itu muncul semakin pesat,
WARWET,SAPUBITINK,kembali ikut turut andil dalam mendokumenkan album mereka sendiri dengan dirilis oleh label X ATRIBUTE RECORD tegal,
Hal ini manjadi pembuktian bagi solidnya komunitas dari berbagai kalangan underground tegal tersendiri saling membantu mensupport dibawah satu bendera berkonsekuen wujudkan prioritas minimalis untuk maximal dan optimal,Di saat inilah band-band berbahaya mulai produktif unjuk gigi luncurkan karya demo demi demo lagu meraka meluas terdistribusikan berbagai kompilasi lokal maupun nasional,
Dan kembali yakni RANTAI 86 mulai buktikan taringnya letuskan album perdananya,Sampai saat ini pun Tegal death metal kembali melahirkan amunisi segar seperti TRYING TO RISE,UNDERSUFFER,TRAGIZ,SURFEGY,SUICIDAL MEMORIES,SUYAENAN HC,PANGON,EMPTYSKY, dan masih banyak yang lainnya. Dengan konsep dan komitmen kami yang berotasi hingga perlahan menukik tajam dalam wadah suatu komunitas underground tegal untuk selalu satu diatas bendera,bersosialisasi,bangkit bersama berkarya&terus berkarya..

Foto WANGWA.

25 Album Metal Terbaik Rilisan Relapse Records



Setelah lebih dari dua dekade berhasil menggebrak sebagai salah satu label rekaman musik cadas bertegangan tinggi paling sukses, Relapse Records tetap rajin mengorbitkan berbagai album dari band-band yang memainkan beragam jenis musik ekstrem; mulai dari metal, punk, hardcore, rock, hingga shoegaze sekalipun.
Tercatat pada Agustus 2015 ini, Relapse Records tepat menginjak usia ke-25 tahun—menunjukkan bahwa tak sedikit album yang telah tercipta dan berhasil dirilis oleh label bentukan Matthew F. Jacobson tersebut.
Mungkin rangkuman di bawah akan menjadi hasil yang paradoks, namun percayalah jika album-album yang dipilih oleh Rolling Stone  pantas untuk mewakili kesuksesan Relapse Records selama ini. Satu hal yang perlu diketahui, dengan tidak berniat memberikan penilaian berdasarkan nomor urut, maka daftar berikut disusun sesuai abjad:



25) Unearthly Trance – 'The Trident' (2006)

Band yang didirikan pada tahun 2000 silam ini dapat dikatakan sebagai “kakak kandung” dari unit doom metal Serpentine Path, karena setelah memutuskan bubar pada 2012 lalu, sebagian dari para personelnya langsung membentuk Serpentine Path. Namun tahun ini, Unearthly Trance diketahui kembali aktif. Melalui album The Trident (2006), mereka dapat memainkan musik yang lebih “waras” jika dibandingkan pendahulunya, Season of Seance, Science of Silence (2003) dan In the Red (2004). Dengan komponen-komponen doom, death, dan heavy metal yang disajikan bersamaan dengan sound apik, album ini layaknya sebuah “pintu gerbang” bagi doom metal dalam memasuki era baru yang lebih modern.



24) Ulcerate – 'Vermis' (2013)

Mungkin banyak orang yang telah menyadari sebuah kesimpulan: bahwa seiring berjalannya waktu, semakin banyak musisi atau band-band yang memberikan warna baru terhadap musiknya dengan menambahkan elemen-elemen lain yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam kancah musik death metal dunia, Ulcerate menjadi salah satunya. Lewat album Vermis (2013), band asal New Zealand bentukan tahun 2002 ini telah menempatkan death metal dalam sebuah ruang baru; musik yang tidak terus-menerus dibawakan dengan kecepatan tinggi, adanya komposisi "istirahat" bagaikan kelompok post-rock atau ambient, serta lapisan-lapisan gitar yang terdengar melimpah layaknya diisi oleh lima orang gitaris sekaligus. Silakan sadari sendiri dengan mendengarkan nomor-nomor seperti “Vermis”, “Weight of Emptiness”, dan “Confronting Entropy”.



23) Spawn of Possession – 'Incurso' (2012)

Jika dalam dunia sepak bola terdapat sosok Lionel Messi—dengan ketrampilannya mengolah si kulit bundar hingga ke tingkat yang hampir tidak terpikirkan oleh manusia—maka kancah musik death metal memiliki Spawn of Possession yang akan membuat Anda termenung-menung setelah mendengarkan musiknya. Duet maut yang terjalin antara gitaris Christian Münzner (mantan personel Necrophagist dan Obscura) dan Jonas Bryssling berhasil menciptakan suatu nafas kehidupan baru—komposisi-komposisi brilian yang sangat jarang ditemukan—bagi death metal itu sendiri. Tanpa banyak berbasa-basi, langsung saja nikmati kebisingan-kebisingan dalam sebuah peperangan di luar angkasa seperti terdapat pada nomor “Where Angels Go Demons Follow”, “Bodiless Sleeper”, dan “The Evangelist.”




22) Serpentine Path – 'Emanations' (2014)

Mereka semakin rajin untuk bermalas-malas ria. Mungkin itulah gambaran yang tepat bagi Serpentine Path pasca merilis album Emanations (2014). Dengan mengandalkan tempo lambat yang diberikan sentuhan sound kasar, Ryan Lipynsky, Jay Newman, Darren Verni (juga merupakan para personel Unearthly Trance), Tim Bagshaw, dan Stephen Flam berhasil meracik musik yang terdengar semakin kelam dan suram. Album ini bagaikan sebuah perkembangan sukses dari pendahulunya, Serpentine Path (2012).



21) Red Fang – 'Murder the Mountains' (2011)

Murder the Mountains (2011) dari Red Fang seperti mendampingi para pendengarnya untuk keluar dari padang pasir luas dengan pohon-pohon kaktus di sekitarnya. Riff gitar khas stoner rock yang mendapat sedikit suntikan blues dan psikedelik berhasil diperkuat oleh gaya vokal yang tidak hanya berteriak, namun juga bernyanyi liar. Mari simak nomor-nomor wajib seperti “Malverde”, “Wires”, dan “Number Thirteen” yang akan melengkapi hari Anda ketika sedang menikmati sekaleng bir di bawah teriknya matahari.


20) Pig Destroyer – 'Prowler in the Yard' (2001)

Prowler in the Yard (2001) dapat menjadi sebuah album acuan bagi yang belum pernah mendengarkan musik grindcore. Lewat album ini, Pig Destroyer menyatakan dengan tegas bahwa grindcore tidak selalu harus dibawakan dengan kecepatan tinggi yang membara. Sebaliknya, Prowler in the Yard merupakan hasil ramuan yang mencakup banyak unsur; sound kasar yang orisinal, groove death metal a la band Devourment, teknik drum yang menggabungkan d-beat dengan blast beat, seta teriakan vokal dengan karakternya yang terdengar basah. Hebatnya lagi, Pig Destroyer dapat merangkum hampir semua dari formula tersebut ke dalam satu lagu dengan durasi cukup pendek yang berjudul “Junkyard God”.





19) Origin – 'Antithesis' (2008)

Origin adalah sebuah band yang mencampur unsur-unsur; brutal, kasar, teknik-teknik gitar melodius, serta kecepatan tingkat tinggi ke dalam musiknya. Itulah yang mengakibatkan band asal Topeka, Kansas, AS tersebut memiliki keunikan tersendiri. Mereka bagaikan sedang memainkan death metal dengan musik yang dapat ditiru dengan nyanyian. Segala elemen awal yang terdapat pada Origin berhasil diperbarui lewat album keempat mereka yang bertajuk Antithesis (2008). Silakan dengarkan nomor-nomor penting berjudul  “The Aftermath”, “Wrath of Vishnu”, dan “Finite” yang membuat diri Anda seakan berada pada dimensi lain yang dihuni oleh makhluk-makhluk asing.



18) Obscura – 'Cosmogenesis' (2009)

Mungkin Obscura dapat diidentikan sebagai generasi penerus dari Necrophagist. Walaupun mereka berasal dari era yang berbeda, namun warna musik dari kedua band ini cukup serupa. Apalagi ketika merilis album Cosmogenesis (2009), Obscura masih diperkuat oleh Christian Münzner (gitar) dan Hannes Grossmann (drum), yang keduanya juga merupakan mantan anggota Necrophagist. Album ini menyuguhkan musik death metal yang tertata rapi: permainan andal dari para personelnya mengakibatkan produksi sound yang dihasilkan terdengar dengan amat jernih. Langsung saja buktikan melalui lagu-lagu seperti “The Anticosmic Overload”, “Incarnated” , dan “Orbital Elements”.




17) Nile – 'Annihilation of the Wicked' (2005)

Annihilation of the Wicked (2005) merupakan album studio pertama dari Nile dengan George Kollias, salah satu penggebuk drum terbaik dalam kancah musik death metal dunia yang selalu dapat bermain secara tepat, akurat, dan konstan. Band asal Greenville, Carolina Selatan, AS ini mulai terkenal berkat membawakan tema yang cukup berbeda—bercerita tentang mitologi Mesir dengan suasana musik a la Timur Tengah—dari kebanyakan band-band death metal pada umumnya. Dengarkan saja uraian mereka lewat nomor-nomor rumit; “Cast Down the Heretic”, “User-Maat-Re”, dan “The Burning Pits of the Duat”.




16) Neurosis – 'Times of Grace' (1999)

Sejujurnya, saya agak kesulitan untuk menentukan album Neurosis mana yang akan masuk ke dalam daftar ini. Namun setelah mempertimbangkannya matang-matang, saya memutuskan untuk memberi hormat lebih kepada album Times of Grace (1999). Bagaimana tidak, mereka berhasil menyuguhkan materi-materi lebih "sehat" dengan lapisan atmosfer yang luas seperti terdapat pada “The Doorway”, “The Last You’ll Know”, dan “Belief”. Neurosis telah menjadi kelompok yang tampaknya enggan dideskripsikan: mereka melampaui keberadaan metal, hardcore, atau punk sekalipun. Scott Kelly, Dave Edwardson, Jason Roeder (ketiga pendiri Neurosis), dan kawan-kawan berhasil merumuskan banyak unsur musik ke dalam komposisi-komposisi apik yang begitu gagah perkasa lewat album ini.



15) Necrophagist – 'Epitaph' (2004)

Sudah tidak perlu diragukan lagi ketika band yang dikomandoi oleh sang gitaris superior, Muhammed Suiçmez, berhasil membawa pengaruh penting bagi kemajuan musik death metal dunia. Dengan segala kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki Suiçmez, Necrophagist telah mempersembahkan dua album studio; Onset of Putrefaction (1999) dan Epitaph (2004). Kedua album tersebut berhasil mencuri perhatian karena adanya percampuran kental antara elemen kompleks death metal dengan komposisi-komposisi musik neo-klasikal. Lewat Epitaph, band asal Jerman bentukan 1992 ini berusaha untuk menjadi "manusiawi" dan hasilnya tidaklah sia-sia: mereka menghasilkan musik yang lebih mudah untuk diserap dan dicerna. Rasanya saya tidak perlu lagi berpanjang lebar mendeskripsikan Necrophagist karena mereka bukanlah band yang masih membutuhkan promosi layaknya Tombs dan Pyrrhon (dua band metal rekrutan Relapse Records yang tergolong baru).



14) Nasum – 'Inhale/Exhale' (1998)

Nasum bagaikan Napalm Death yang sempat dimiliki oleh Skandinavia. Mungkin kalimat itulah yang secara instan terpikirkan oleh saya ketika harus menggambarkan band asal Swedia tersebut. Mengapa saya gunakan kata "sempat" di atas? Ya, mereka langsung memutuskan untuk bubar setelah kematian sang vokalis Mieszko Talarczyk—akibat diterjang gelombang Tsunami yang menewaskan dirinya—ketika sedang berlibur di Thailand pada 2004 silam. Seperti halnya Napalm Death, Nasum berhasil menjadi band grindcore yang sarat dengan tema sosial, politik, dan humanisme. Bersamaan dengan album Inhale/Exhale (1998), secara emosional—lagu-lagu berdurasi singkat yang dibungkus dengan teramat padat dan intens—Nasum tampak ingin mengantarkan pesan bagi para pendengarnya untuk tetap marah dan jangan pernah berhenti melawan segala bentuk penindasan serta diskriminasi.






13) Misery Index – 'Traitors' (2008)

Terlepas dari ketangkasan para personelnya, kesuksesan sebuah album juga patut ditinjau dari kinerja hebat sang produser. Traitors (2008) yang merupakan album ketiga Misery Index diproduseri oleh Kurt Ballou, gitaris cerdas dari unit hardcore punk veteran Converge yang telah banyak memproduseri berbagai macam rilisan dari band-band seperti; Jesuit, Cave In, Disfear, Trap Them, Kvelertak, Black Breath, All Pigs Must Die, Old Man Gloom, hingga Baptists. Dalam album ini, Misery Index berhasil memperkaya diri dengan menggali komponen-komponen yang belum terlalu kelihatan di dua album sebelumnya; hubungan erat yang terjalin antara grindcore dengan death metal, tema lirik sosial politik yang lebih mendalam, dan terciptanya nomor anthemic seperti “Traitors”.



12) Mastodon – 'Leviathan' (2004)

Penampilan aneh dari Brent Hinds (gitaris sekaligus vokalis) dan Brann Dailor (drummer) di perhelatan Grammy Awards pada Februari silam —ketika Hinds menggunakan seragam tim baseball asal Amerika Serikat, Los Angeles Dodgers dan Dailor yang mengenakan kemeja hijau lengkap dengan jas bermotif balon—kembali menjadi bukti bahwa Mastodon adalah sebuah band yang kerap bergurau dan melakukan hal-hal konyol dalam kesehariannya. Namun, jangan coba untuk menilai setiap karya yang telah mereka hasilkan berdasarkan tingkah laku tersebut karena merilis album-album studio yang inovatif dan memukau tampaknya sudah menjadi peraturan wajib bagi kuartet asal Atlanta, AS ini. Kesuksesan mereka mulai tercium sejak album perdana, Remission (2002). Dengan ditindaklanjuti oleh sebuah album konsep Leviathan (2004), Mastodon semakin terasa rapi dengan mempertontonkan; nuansa groove yang berbaris ketat menjaga gagahnya musik metal dan gusarnya karakteristik vokal, pengulangan solo gitar yang membuat kepala seperti berputar, serta petikan halus dawai pada beberapa bagian yang memberikan sentuhan minimalis nan indah.

11) Man Must Die – 'The Human Condition' (2007)

Jika Skotlandia memiliki warisan seperti Johnnie Walker dan Ballantine’s, mereka juga patut berbangga dengan keberadaan Man Must Die. Siapa yang menyangka bahwa band kecil bentukan tahun 2002 tersebut berhasil mengagetkan kancah musik death metal dunia dengan bergabung bersama Relapse Records dan mempersembahkan album The Human Condition (2007)? Sebagai pentolan band, Joe McGlynn mampu mengeluarkan energi terbaiknya sehingga dapat menghasilkan karakter vokal variatif yang begitu kuat tak terpatahkan. Untuk departemen musikalitas sendiri, sebaiknya tidak perlu banyak dibicarakan lagi, karena lewat teknik gitar dengan skala-skala tingkat lanjut, mereka tiada memberikan ampun bagi Anda yang mendengar.

SEJARAH PERKEMBANGAN MUSIK UNDERGROUND DI INDONESIA



Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarahnamanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah albumketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

  • Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.
  • Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.
  • Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yangmengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.
  • Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan jugamantan vokalis Rotor
  • Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock undergroundmanggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Diluar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di “infiltrasi” oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMAPangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus UniversitasNasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).
  • Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses “membakar” Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawahlabel Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The 8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding bandseangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, AquariusMusikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker’. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.
  • Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal seringterlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal daninternasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.
  • Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).
  • Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan coverpenuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (bisik*com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dansebagainya.
  • 29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaekAhmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah,Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.
  • 10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue- venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yangterletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.
Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik inikemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe’. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V,Parklife hingga Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989 sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel `Finally’ baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living Comfort In Anarchy’ via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Bandung scene

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya denganmembuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan.” Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang self-titled. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana, komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya. Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian taklama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya. Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www* deathrockstar*tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Scene Jogjakarta

Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja Corpsegrinder. Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana, Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, Ruction.

Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997 tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop sampai The Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota ini. Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001 silam di antaranya menampilkan Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hinggaMesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI - Red) dimana band- band underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido manggung di sebuah acara musik di event tersebut.

Setelah event itu masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini RIP - Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.

Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut album milik Slowdeath yang bertitel “From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction” (September 96), debut album Dry berjudul “Under The Veil of Religion” (97), Brutal Torture “Carnal Abuse”, Wafat “Cemetery of Celerage” hingga debut album milik Fear Insideyang bertitel “Mindestruction”. Tahun-tahun berikutnya barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45, saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah satu band death metal lama yaitu, Dry kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.

Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama ARMY OF DARKNESS yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Selanjutnya di bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even tersebut sebagai band undangan.

Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti ARMY OF DARKNESS I dan II.

Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground INFERNO 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo,Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (Ruko) ini tercatat ada beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh INFERNO 178 antara lain adalah, STOP THE MADNESS, TEGANGAN TINGGI I & II hingga BLUEKHUTUQ LIVE.

Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera INFERNO 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal asal komunitas INFERNO 178, Surabaya bernama POST MANGLED pertama kali terbit kala itu di event TEGANGAN TINGGI I di kampus Unair dengan tampilnya band-band punk rock dan metal. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses penggarapan POST MANGLED Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisinya yang terbaru hingga kini.

Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene, lahirlah kemudian GARIS KERAS Newsletter yang terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di Surabaya saja tetapi lebih luas lagi. Respon positif pun menurut mereka lebih banyak datang justeru dari luar kota Surabaya itu sendiri. Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir hayatnya GARIS KERAS Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke- 12.

Divisi indie label dari INFERNO 178 paling tidak hingga sekitar 10 rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label INFERNO 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang berjudul “Ajang Kebencian”. Selanjutnya labelINFERNO 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk- produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs Records oleh Samir (kini gitaris TENGKORAK) dengan album kedua Slowdeath yang bertitel “Propaganda” sebagai proyek pertamanya yang dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower sekitar bulan September 2000 lalu yang dihadiri oleh 150- an penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.

Scene Malang

Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang “panas” sejak awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community(T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetapsaja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Underground tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal),Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrialdeath metal), No Man’s Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).

Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yangbertitel “Maggot Sickness” saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch. Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yangditerbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap produktif merilis album di Malang adalah Confused Records

Scene Bali

Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Ikut eksis di dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit diJogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal IndonesiaCorpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yangberlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satualumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyesdan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Indie Indonesia Era 2000-an

Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an? Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke depan.

Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom `indie’ dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non- mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasikmengenai istilah `indie atau underground’ ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bias karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang `sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping. Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom indie karena lebih `elastis’ dan misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauhmeninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Ditengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai- ramai merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia. Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi `panglima’ sekarang ini.